Seperti kisah yang sebelumnya,Kisah Harry Potter ini masih mengambil background story dari kisah asli Harry Potter versi J.K Rowling dengan tambahan kisah sensual ciptaan saya sendiri.
Terbangun dari tidurnya Harry melihat langit diluar sudah sangat gelap dan perutnya sangat lapar, seluruh kamar berantakan dan ia terlalu lelah untuk mencari pakaiannya, hanya ingat letak bubuk Floo dan menggunakannya untuk pulang kerumah Dursleys telanjang bulat, dengan badan penuh sperma dan wajah lengket karena cairan vagina Atkins yang mengering.
“Hei, dimana dia?” kata harry berucap sendiri.
“Enak sekali ngentot dengannya, andai bisa kuulang lain waktu” lanjutnya dan kontolnya mulai menegang sedikit, kini kepala kontolnya yang membengkak tidak masuk kedalam kulitnya, apalagi memang sedikit ngaceng.
Pulanglah ia dengan bubuk Floo, dan seperti biasa ia melihat perapian rumah rumah lain.
Sesampainya di rumah Dursley, ternyata semua lampu telah dimatikan. Bagus, karena di bertelanjang bulat. Tapi hal yang tidak diduga terjadi, Bibi Petunia sedang menuju dapur –mungkin ingin minum- tepat saat Harry berada dibawah sorotan cahaya bulan dan ia menjerit.
“VERNOOOOOOOOOON!!! VERNOOONN!!!! LIHATLAH KEPONAKANMU INI!!” Teriak Bibi Petunia menjerit jerit dengan ekspresi wajah bodoh dan berlebihan yang sebenarnya sangat dibuat buat dan tidak perlu.
“Dia berkeliaran dirumah dengan bertelanjang bulat dan…” omongannya tidak lagi berteriak.
“Lihatlah anak yang mulai tumbuh besar ini! Badannya terlihat sangat seksi penuh bulu yng baru tumbuh, dan OH!! Kontolmu! Kontolmu sangat besar nak!! Lebih besar dari milik pamanmu.” Lanjutnya dengan suara sangat rendah yang bahkan hampir tidak terdengar, bahkan kali ini ekspresinya lebih bodoh dari yang sbelumnya.
Harry masih diam mematung, sedikit takut jika pamannya datang dan mendapatinya bertelanjang bulat dengan kontol setengah ngaceng.
Melihat kontol itu bibi Petunia ingin sekali memegangnya, namun segera Harry mundur dan menggenggam tangan bibinya dengan tangan yang lain ia berusaha menutupi kontolnya namun percuma, kontolnya sangat besar sekarang.
“Jangan pernah berfikir untuk menyentuhnya dengan tangan tuamu yang kotor dan keriput itu!!” Kata Harry melemparkan tangan bibinya dan berlalu pergi menuju kamarnya. Tak lupa ia melakukan jampi memori secara non verbal agar bibinya lupa apa yang baru saja ia lihat.
Mantranya berhasil, bahkan ia lupa untuk apa dia kedapur, kemudian kembali kekamarnya.
Pamannya berlari menghampiri dan Harry melakukan hal yang sama padanya.
Ia kemudian cepat cepat berlari kekamarnya dan memanggil manggil Dobby yang segera muncul.
“Pergilah ke kementrian sihir dan katakan kalau kau yang melakukan jampi memori pada paman dan bibiku!”
“Yes, sir!” Kata Dobby yang kemudian menghilang seketika dengan jentikan jarinya.
“Hei, dimana dia?” kata harry berucap sendiri.
“Enak sekali ngentot dengannya, andai bisa kuulang lain waktu” lanjutnya dan kontolnya mulai menegang sedikit, kini kepala kontolnya yang membengkak tidak masuk kedalam kulitnya, apalagi memang sedikit ngaceng.
Pulanglah ia dengan bubuk Floo, dan seperti biasa ia melihat perapian rumah rumah lain.
Sesampainya di rumah Dursley, ternyata semua lampu telah dimatikan. Bagus, karena di bertelanjang bulat. Tapi hal yang tidak diduga terjadi, Bibi Petunia sedang menuju dapur –mungkin ingin minum- tepat saat Harry berada dibawah sorotan cahaya bulan dan ia menjerit.
“VERNOOOOOOOOOON!!! VERNOOONN!!!! LIHATLAH KEPONAKANMU INI!!” Teriak Bibi Petunia menjerit jerit dengan ekspresi wajah bodoh dan berlebihan yang sebenarnya sangat dibuat buat dan tidak perlu.
“Dia berkeliaran dirumah dengan bertelanjang bulat dan…” omongannya tidak lagi berteriak.
“Lihatlah anak yang mulai tumbuh besar ini! Badannya terlihat sangat seksi penuh bulu yng baru tumbuh, dan OH!! Kontolmu! Kontolmu sangat besar nak!! Lebih besar dari milik pamanmu.” Lanjutnya dengan suara sangat rendah yang bahkan hampir tidak terdengar, bahkan kali ini ekspresinya lebih bodoh dari yang sbelumnya.
Harry masih diam mematung, sedikit takut jika pamannya datang dan mendapatinya bertelanjang bulat dengan kontol setengah ngaceng.
Melihat kontol itu bibi Petunia ingin sekali memegangnya, namun segera Harry mundur dan menggenggam tangan bibinya dengan tangan yang lain ia berusaha menutupi kontolnya namun percuma, kontolnya sangat besar sekarang.
“Jangan pernah berfikir untuk menyentuhnya dengan tangan tuamu yang kotor dan keriput itu!!” Kata Harry melemparkan tangan bibinya dan berlalu pergi menuju kamarnya. Tak lupa ia melakukan jampi memori secara non verbal agar bibinya lupa apa yang baru saja ia lihat.
Mantranya berhasil, bahkan ia lupa untuk apa dia kedapur, kemudian kembali kekamarnya.
Pamannya berlari menghampiri dan Harry melakukan hal yang sama padanya.
Ia kemudian cepat cepat berlari kekamarnya dan memanggil manggil Dobby yang segera muncul.
“Pergilah ke kementrian sihir dan katakan kalau kau yang melakukan jampi memori pada paman dan bibiku!”
“Yes, sir!” Kata Dobby yang kemudian menghilang seketika dengan jentikan jarinya.
Beberapa jam Harry terjaga menunggu Dobby yang tak kembali, namun juga tak satupun surat dari kementrian datang. Pasti Dobby berhasil meyakinkan Orang di sana. Kemudian Harry tertidur karena kelelahan. Masih telanjang dan kotor.
Tak bisa tidur, Harry terbangun di tengah malam, memikirkan lagi ngentot yang sangat dasyat dengan Atkins. Kontolnya ngaceng lagi, dan badannya yang kotor membuatnya tidak nyaman. Ia pergi mandi ditengah malam dan dibawah guyuran air dari shower, Harry mengocok kontolnya sambil mendesah pelan agar orang orang tidak terbangun.
Lama dikocok kontolnya namun tidak juga keluar spremanya, Harry menyerah dan kembali ke kamarnya dengan telanjang bulat dan kali ini kontolya tegak mengacung keudara. Ia sangat menikmati berjalan keliling rumah dengan bertelanjang. Terasa aneh dan menegangkan, tapi juga menyenangkan.
Kontol Harry yang sudah mulai lemas kembali menegang, ia berjalan ke dapur lagi, mengambil minum dan melihat keluar jendela.
“Hey, belum pernah aku ngocok didepan umum! Bagaimana rasanya?” Katanya bergumam sendiri.
Dilihatnya jam di dinding. Jam 4 pagi. Keluarga Dursley tidak mungkin akan terjaga selarut ini, fikirnya. Dengan segera ia berjalan ke halaman belakang rumahnya masih dengan bertelanjang, kontolnya semakin tegang bersama dengan jantungnya yg makin berdegub kencang menikmati sensasi kegilaannya ini. Ia berjalan semakin menjauh dari rumah, kontolnya bergoyang ke kanan dan kiri seiring dengan langkah kakinya sengaja mendekat kearah jalan agar semakin tegang suasananya apalagi jika ada orang yang lewat. Didekat bangku jalan ia berdiri tepat dibelakang lampu jalanan yang berwrna kuning remang remang. Mulailah dikocok pelan kontolnya yang sudah sangat tegang berurat dan sangat merah itu. Makin lama makin cepat, kontolnya maikn dibasahi lendir bening yg mengalir seperti air kencing membuat kocokan pada kontolnya bersuara ribut “CLK..CLK..CLK..!” terus menerus membuat kontolnya merasa makin nikmat mendengar suara itu, lama dikocoknya kontolnya pelan kadang pula cepat, dan suara ribut itu sepertinya didengar seseorang yg berada didalam rumah diseberang jalan. Lampu salah satu ruagan menyala dan terlihat siluet seseorang dibalik gorden sedang berjalan mondar mandir seperti menata sesuatu. Harry semakin gugup, jantungnya berdebar dasyat namun kocokan dikontolnya melemah dan kontolnyapun mulai menunjukkan tanda tanda melemas karena panik antara ingin pergi atau tetap disana denga segala resikonya.
Harry tetap memilih tetap disana dan melanjutkan mengocok kontolnya yang kembali menegang sambil bersandar di bangku jalan namun tiba tiba gorden rumah itu dibuka dan seseorang muncul dari balik jendela. Harry terlonjak kaget ketakutan dan langsung berhenti mengocok kontolnya yag masih sangat tegang dan justru semakin tegang. Panik, Harry tidak tahu harus apa. Kakinya terasa berat untuk lari dan lidahnya terasa kaku untuk bicara.
“SIAPA DISANA? SEDANG APA KAU?” Kata orang didepan jalan. Dia adalah teman Dudley sepupuya, pasti ia akan laporkan ini ke Dudley yang pastinya akan meneruskan berita ini ke orang tuanya. Gawat!!
“HEY!! APA KAU SAUDARANYA DUDLEY?” Tanya anak itu lantang. Harry masih dalam keadaan shock tidk dapat menjawab apalagi lari.
Anak itu keluar lewat jendela menghampiri Harry yang semakin gugup dan akhirnya mampu bergerak. Namun bukannya lari ia malah jongkok bersembunyi dibalik bangku taman.
“Hey aku tahu apa yg kamu perbuat tadi dan aku tahu kau saudaranya Dudley kan?!”
“Sssst… sebenarnya aku juga sedang ngocok!” sambungnya.
Harry langsung menoleh kerah anak itu dan tatapannya langsung mendapati pemandangan yang tak terduga. Ternyata anak itu keluar rumah hanya dengan T-shirt dan celana Boxer dengan kancing didepannya dan kontolnya yang hitam dikeluarkan, pelernya juga.
“Mau kubantu ngocok kontolmu? Aku berjanji tidak akan ada yang tahu apa yg kita lakukan. Kemari! Kontolmu besar sekali.”Anak itu memulai sambil menyuruh Harry kembali berdiri dan langsung saja memegang kontolnya.
“WOW! Kontolmu sangat indah! Aku selalu ingin lihat kontol berurat secara langsung. Selama ini hanya kulihat di dalam majalah sex saja.”Lanjutnya.
“Hei! Aku tidak pernah dikocok oleh anak laki.” Kata Harry.
“Baik akan kubuat kau pernah, bagaimana?”
Tanpa tunggu jawaban anak itu langsung mengocok kontol Harry.
“WOW! Ternya kontolmu tidak disunat, dan kepala kontolmu merah sekali. Semua yg kusuka jadi satu dikontolmu.”
“AAAAHHHHHH…. Kenapa kau suka kontol, bukankah kau juga punya? Dan apa itu disunat?” Kata Harry.
“Ini, kau lihat kontolku! Tidak ada kulit penutupnya karena sudah dipotong untuk alasan kesehatan.” Katanya sambil menunjukkan kontolnya. Tidak menjawab mengapa dia suka kontol.
“Maukah kau bantu anku ngocok kotolku? Jadi kita saling kocok”
Tanpa menjawab Harry langsung mengocok kontol anak itu. Harry terbiasa mengocok kepala kontolnya dengan kulitnya, tapi anak ini tidak punya kulit untuk dikocok, Harry mencoba mengocok begitu saja kepala kontolnya tapi susah karena kering jadi lengket dan tidak licin.
“Susah sekali, bagaimana caramu ngocok?” tanya Harry yang kesulitan mengocok kontol sunat anak itu.
“Begini!” jawabnya sambil melepas kocokannya dikontol Harry dan langsung mengocok kontolnya sendiri. Diludahi tangan dan kontolnya dan dikocoknya kepala kontolnya. Harry yang sudah mengerti langsung meludahi tangannya sendiri, tak terpikir olehnya ludah bisa jadi pelicin.
Kedua anak ini saling kocok kontol dengan erangan erangan tertahan, hanya suara kocokan kontol itu saja yang terdengar ribut bersahut sahutan.
“Ah,ah,ah,ah,ah,ah,ah,AAAAAAAHHHHHHHHHHHH….!!” Teriak anak itu ketika kontolnya mulai merasa akan keluar pejuh. Ditariknya pinggulnya yang membuat kontolnya terlepas dari tangan Harry dan ia pun melepas tangan Harry dari kocokannya.
“Aku tidak ingin cepat berakhir!” Anak itu menjawab kebingungan diwajah Harry.
“Boleh kumasukkan kontolmu ke mulutku?” Lanjutnya.
Tak menjwab, Harry menggenggam kontolnya memasukkan kedalam mulut temannya dan langsung menggerakkan maju mundur. Kepala anak itu dipegangya dengan kedua tangan dan dimaju mundurkan. Ia mengocok kontolnya dengan mulut temannya, makin lama makin cepat membuat anak itu tersedak . Harry tidak peduli karena sudah hampir klimas dan tak lama CROOOOOOOOOOOOOOOOOTTTTT… semprotan sperma yg sangat banyak terjadi, disusul tembakan tembakan berikutnya. Mulut anak itu kini penuh dengan kontol besar dan sperma super kental dan banyak, tak sedikit jang negalir keluar mulutnya atau jatuh menetes.
“Kemarikan spermaku, aku suka rasanya!” Kata harry menjulur tangan. Anak itu tidak memberinya ketangan tapi dengan gerakan cepat memindahkan sperma dimulutnya ke mulut Harry yang terkejut dengan aksi anak itu>
“Apa apaan kamu?” Ucapnya marah merasa anak itu lancang menciumnya.
“kau ingin sperma kuberi sperma, tapi bukannya kau mengambilnya justru marah marah” Kata anak itu sambil mengunya sperma Harry yang tidak bisa langsung ditelan.
“Hey spermamu nikmat sekali!” Lanjutnya.
“Ini disebut homoseksual, sudah biasa! Jngan kaget!” Terangnya yang langsung mencium Harry memberi spermanya.
“Hmmm… sekarang aku yang akan mengocok kontolmu dengan mulutku.” Kata harry yang tanpa persetujuan langsung menyedot nyedot kontol hitam besar anak negro itu. Makin lam makin cepat dan CROOOOOOOOTTTT…. Keluarlah sperma anak itu, jauh lebih banyak dari sperma Harry tapi tidak sekental miliknya. Langsung saja dibaginya sperma itu dengan partner sex liar nya itu dengan berciuman dan Harry langsung kembali kerumah dalam keadaan berlari telanjang karena langit sudah mulai terlihat merah, hampir pagi.
Tak bisa tidur, Harry terbangun di tengah malam, memikirkan lagi ngentot yang sangat dasyat dengan Atkins. Kontolnya ngaceng lagi, dan badannya yang kotor membuatnya tidak nyaman. Ia pergi mandi ditengah malam dan dibawah guyuran air dari shower, Harry mengocok kontolnya sambil mendesah pelan agar orang orang tidak terbangun.
Lama dikocok kontolnya namun tidak juga keluar spremanya, Harry menyerah dan kembali ke kamarnya dengan telanjang bulat dan kali ini kontolya tegak mengacung keudara. Ia sangat menikmati berjalan keliling rumah dengan bertelanjang. Terasa aneh dan menegangkan, tapi juga menyenangkan.
Kontol Harry yang sudah mulai lemas kembali menegang, ia berjalan ke dapur lagi, mengambil minum dan melihat keluar jendela.
“Hey, belum pernah aku ngocok didepan umum! Bagaimana rasanya?” Katanya bergumam sendiri.
Dilihatnya jam di dinding. Jam 4 pagi. Keluarga Dursley tidak mungkin akan terjaga selarut ini, fikirnya. Dengan segera ia berjalan ke halaman belakang rumahnya masih dengan bertelanjang, kontolnya semakin tegang bersama dengan jantungnya yg makin berdegub kencang menikmati sensasi kegilaannya ini. Ia berjalan semakin menjauh dari rumah, kontolnya bergoyang ke kanan dan kiri seiring dengan langkah kakinya sengaja mendekat kearah jalan agar semakin tegang suasananya apalagi jika ada orang yang lewat. Didekat bangku jalan ia berdiri tepat dibelakang lampu jalanan yang berwrna kuning remang remang. Mulailah dikocok pelan kontolnya yang sudah sangat tegang berurat dan sangat merah itu. Makin lama makin cepat, kontolnya maikn dibasahi lendir bening yg mengalir seperti air kencing membuat kocokan pada kontolnya bersuara ribut “CLK..CLK..CLK..!” terus menerus membuat kontolnya merasa makin nikmat mendengar suara itu, lama dikocoknya kontolnya pelan kadang pula cepat, dan suara ribut itu sepertinya didengar seseorang yg berada didalam rumah diseberang jalan. Lampu salah satu ruagan menyala dan terlihat siluet seseorang dibalik gorden sedang berjalan mondar mandir seperti menata sesuatu. Harry semakin gugup, jantungnya berdebar dasyat namun kocokan dikontolnya melemah dan kontolnyapun mulai menunjukkan tanda tanda melemas karena panik antara ingin pergi atau tetap disana denga segala resikonya.
Harry tetap memilih tetap disana dan melanjutkan mengocok kontolnya yang kembali menegang sambil bersandar di bangku jalan namun tiba tiba gorden rumah itu dibuka dan seseorang muncul dari balik jendela. Harry terlonjak kaget ketakutan dan langsung berhenti mengocok kontolnya yag masih sangat tegang dan justru semakin tegang. Panik, Harry tidak tahu harus apa. Kakinya terasa berat untuk lari dan lidahnya terasa kaku untuk bicara.
“SIAPA DISANA? SEDANG APA KAU?” Kata orang didepan jalan. Dia adalah teman Dudley sepupuya, pasti ia akan laporkan ini ke Dudley yang pastinya akan meneruskan berita ini ke orang tuanya. Gawat!!
“HEY!! APA KAU SAUDARANYA DUDLEY?” Tanya anak itu lantang. Harry masih dalam keadaan shock tidk dapat menjawab apalagi lari.
Anak itu keluar lewat jendela menghampiri Harry yang semakin gugup dan akhirnya mampu bergerak. Namun bukannya lari ia malah jongkok bersembunyi dibalik bangku taman.
“Hey aku tahu apa yg kamu perbuat tadi dan aku tahu kau saudaranya Dudley kan?!”
“Sssst… sebenarnya aku juga sedang ngocok!” sambungnya.
Harry langsung menoleh kerah anak itu dan tatapannya langsung mendapati pemandangan yang tak terduga. Ternyata anak itu keluar rumah hanya dengan T-shirt dan celana Boxer dengan kancing didepannya dan kontolnya yang hitam dikeluarkan, pelernya juga.
“Mau kubantu ngocok kontolmu? Aku berjanji tidak akan ada yang tahu apa yg kita lakukan. Kemari! Kontolmu besar sekali.”Anak itu memulai sambil menyuruh Harry kembali berdiri dan langsung saja memegang kontolnya.
“WOW! Kontolmu sangat indah! Aku selalu ingin lihat kontol berurat secara langsung. Selama ini hanya kulihat di dalam majalah sex saja.”Lanjutnya.
“Hei! Aku tidak pernah dikocok oleh anak laki.” Kata Harry.
“Baik akan kubuat kau pernah, bagaimana?”
Tanpa tunggu jawaban anak itu langsung mengocok kontol Harry.
“WOW! Ternya kontolmu tidak disunat, dan kepala kontolmu merah sekali. Semua yg kusuka jadi satu dikontolmu.”
“AAAAHHHHHH…. Kenapa kau suka kontol, bukankah kau juga punya? Dan apa itu disunat?” Kata Harry.
“Ini, kau lihat kontolku! Tidak ada kulit penutupnya karena sudah dipotong untuk alasan kesehatan.” Katanya sambil menunjukkan kontolnya. Tidak menjawab mengapa dia suka kontol.
“Maukah kau bantu anku ngocok kotolku? Jadi kita saling kocok”
Tanpa menjawab Harry langsung mengocok kontol anak itu. Harry terbiasa mengocok kepala kontolnya dengan kulitnya, tapi anak ini tidak punya kulit untuk dikocok, Harry mencoba mengocok begitu saja kepala kontolnya tapi susah karena kering jadi lengket dan tidak licin.
“Susah sekali, bagaimana caramu ngocok?” tanya Harry yang kesulitan mengocok kontol sunat anak itu.
“Begini!” jawabnya sambil melepas kocokannya dikontol Harry dan langsung mengocok kontolnya sendiri. Diludahi tangan dan kontolnya dan dikocoknya kepala kontolnya. Harry yang sudah mengerti langsung meludahi tangannya sendiri, tak terpikir olehnya ludah bisa jadi pelicin.
Kedua anak ini saling kocok kontol dengan erangan erangan tertahan, hanya suara kocokan kontol itu saja yang terdengar ribut bersahut sahutan.
“Ah,ah,ah,ah,ah,ah,ah,AAAAAAAHHHHHHHHHHHH….!!” Teriak anak itu ketika kontolnya mulai merasa akan keluar pejuh. Ditariknya pinggulnya yang membuat kontolnya terlepas dari tangan Harry dan ia pun melepas tangan Harry dari kocokannya.
“Aku tidak ingin cepat berakhir!” Anak itu menjawab kebingungan diwajah Harry.
“Boleh kumasukkan kontolmu ke mulutku?” Lanjutnya.
Tak menjwab, Harry menggenggam kontolnya memasukkan kedalam mulut temannya dan langsung menggerakkan maju mundur. Kepala anak itu dipegangya dengan kedua tangan dan dimaju mundurkan. Ia mengocok kontolnya dengan mulut temannya, makin lama makin cepat membuat anak itu tersedak . Harry tidak peduli karena sudah hampir klimas dan tak lama CROOOOOOOOOOOOOOOOOTTTTT… semprotan sperma yg sangat banyak terjadi, disusul tembakan tembakan berikutnya. Mulut anak itu kini penuh dengan kontol besar dan sperma super kental dan banyak, tak sedikit jang negalir keluar mulutnya atau jatuh menetes.
“Kemarikan spermaku, aku suka rasanya!” Kata harry menjulur tangan. Anak itu tidak memberinya ketangan tapi dengan gerakan cepat memindahkan sperma dimulutnya ke mulut Harry yang terkejut dengan aksi anak itu>
“Apa apaan kamu?” Ucapnya marah merasa anak itu lancang menciumnya.
“kau ingin sperma kuberi sperma, tapi bukannya kau mengambilnya justru marah marah” Kata anak itu sambil mengunya sperma Harry yang tidak bisa langsung ditelan.
“Hey spermamu nikmat sekali!” Lanjutnya.
“Ini disebut homoseksual, sudah biasa! Jngan kaget!” Terangnya yang langsung mencium Harry memberi spermanya.
“Hmmm… sekarang aku yang akan mengocok kontolmu dengan mulutku.” Kata harry yang tanpa persetujuan langsung menyedot nyedot kontol hitam besar anak negro itu. Makin lam makin cepat dan CROOOOOOOOTTTT…. Keluarlah sperma anak itu, jauh lebih banyak dari sperma Harry tapi tidak sekental miliknya. Langsung saja dibaginya sperma itu dengan partner sex liar nya itu dengan berciuman dan Harry langsung kembali kerumah dalam keadaan berlari telanjang karena langit sudah mulai terlihat merah, hampir pagi.
------------------------------------------[TO BE CONTINUED]-------------------------------------------------


