Jumat, 11 Oktober 2013

Harry Potter and the Sex Lesson [Part 1]



Kisah Harry Potter ini mengambil background story dari kisah asli Harry Potter versi J.K Rowling dengan tambahan kisah sensual ciptaan saya sendiri.



             Suatu hari di masa liburan musim panas, Dumbledore datang ke kamar Harry Potter dengan berapparate dan dengan terburu mengajak Harry meninggalkan privet drive dengan izin paman dan bibinya tentunya. Mereka meninggalkan privet drive dengan berapparate juga. Harry merasakan kembali sensasi beerapparete yg sudah dikenalnya namun dibencinya dan tiba di The Leaky Cauldron. Harry yakin mereka akan ke Diagon Alley, namun tidak yakin untuk apa.
“sir, apa yang aka…”
“Sshhh…!” Dumbledore menyela.
“Ikuti saja aku dan jangan menarik perhatian! Kita tidak sedang menuju ke Diagon Alley, ada yang harus kita bicarakan.” Sambung Dumbledore cepat.
“Lalu apa yang---“
                Dumbledore tidak menjawab, hanya berlalu dan memberi tanda kepada Harry untuk mengikutinya ke lantai dua bangunan usang itu menuju satu kamar yang telah lebih dahulu dipesan oleh Dumbledore. Pria tua itu membuka pintunya dengan terburu dan kemudian mendorong Harry untuk masuk terlebih dahulu baru disusul oleh dirinya. Dumbledore menutup pintu dengan cept dan
“nah!! Semua ini ada hubungannya dengan hal yg baru saja terjadi di tahun kelimamu, dan di usiamu sekarang sudah sehrusnya kau tahu te--“
                “Apa ada hubungannya dengan Voldemort?” Sela Harry.
                “Tidak, ini masalah kedewasaanmu!”
                “Kedewasaan saya, sir?”
                “Ya, dan baiknya kita bicarakan sambil bertelanjang.”
Beberapa detik terjadi keheningan, hanya tatapan bingung Harry.

                “Ya, bertelanjang! Tidak memakai pakaian!” Dumbledore memecah keheningan.
                “Hanya kamu yang bertelanjang tentunya!!”
                “Ayolah nak, kita sesama laki laki tak perlu malu!!”
                “Baiklah, sir!!” jawab Harry tak mengerti.
                Anak itu langsung saja melucuti pakaiannya satu persatu tanpa malu didepan Kepala sekolahnya itu. Dia sudah bukan bocah lagi, kini dadanya beerbentuk bidang dan sudah ditumbuhi bulu  bulu halus, otot perutnyapun mulai terlihat membentuk six-packs alami yang juga ditumbuhi bulu halus yang merupakan perpanjangan dari bulu bulu di pangkal penisnya yang membentuk segitiga terbalik. Penisnya putih mulus bergelantung didepan kantong testikelnya, terlihat besar dan gagah untuk anak berusia enambelas tahun dengan panjang sekitar tiga inchi (7,5CM) dan diameter 1,25 inchi (3CM). Dan seperti kebanyakan anak diera ini, penis putihnya tidak disunat sehingga kepala penisnya tertutup oleh kulitnya meski tidak tertutup sempurnya. Kepala penisnya sedikit keluar dari kulit penutupnya.
                Dumbledore kemudian menjelaskan padanya kalau semua perubahan pada tubuhnya itu adalah tanda tanda kedewasaan seorang pria normal, namun mengingat kejadian dan life-style Harry, Dumbledore merasa ragu tentang kesempurnannya sebagai pria dewasa. Maka dari itu Dumbledore ingin mengadakan test kecil.
                Dengan gerakan anggun ia mengangkat tongkat sihirnya dan menggambar bidang persegi diudara yg segera diikuti dengan percikan api disetiap gerakan tongkatya (Bayangkan Rudi Tabooty –chalk zone—menggambar dengan kapurnya). Dari sana muncul sebuah buku biru turun dengan perlahan ketangan Dumbledore yang dengan segera menyerahkannya kepada Harry yang sedang berdiri telanjang tept dihadapan wajahnya.
                “Duduklah, dan lihatlah isi album itu!” Perintahnya kepada Harry yang mulai merasa aneh.

                Dibukanya album itu dan ternyata didalamny berisi foto foto beberpa penyihir wanita bertelanjang bulat atau setengah telanjag dengan bergaya sexy, bahkan ada yang menusuk vagina berbulu tipisnya dengan tongkat sihir, atau dengan jari mereka sendiri dengan berexpresi sangat sexi dan menggoda.
                Tiba tiba saja penis putih mulus Harry berdenyut. (kontolbengkokenak.blogspot.com) Makin lama makin kencang dan lama kelamaan makin mengeras, ukurannya bertambah besar dan panjang, kepala penisnya keluar dari kulit penutupnya dengan sangat basah dipenuhi cairan lendir bening cair yang menetes perlahan jatuh ke pinggiran kasur. Penis yang tadinya putih mulus menjadi merah dan penuh otot, pembuluh darah terlihat bermunculan berwarna biru dan ungu di beberapa bagian, benjolan bulat panjang berbentuk tabung terlihat jelas di bagian bawah penisnya dari pangkal sampai mendekati kepala penisnya yang makin memerah. Wajah Harry juga memerah, malu sekaligus terangsang.
                Merasa sesuatu terjadi pada penisnya, Harry menyentakkan album itu dengan segera untuk melihat penisnya dan mendapati penisnya sangat merah berurat dan melihatnya dengan ngeri.
                “APA YANG TERJADI PADANYA SIR?” Kata Harry sambil terlonjak ketakutan. Memang selama ini penisnya tidak pernah mengalami ereksi sehebat itu, hanya menegang sewajarnya saat bangun pagi.
                “Tenang nak! Itu biasa terjadi. Penismu sedang ereksi hebat. Penis juga disebut KONTOL, dan ereksi disebut NGACENG. Mari mulai menggunakan istilah itu.” Sahut Dumbledore menenangkan Harry.
                “Kenapa dengan kontol saya sir? Apa album ini ada kutukan? Kontol saya tidak pernah ngaceng seperti ini sir!” tanya Harry ketakutan.
                “Itu normal Harry, pria dewasa yang sedang terangsang ngaceng seperti itu, berbeda dengan saat kau bangun tidur.”
                Panjang lebar Dumbledore menceritakan tentang kontol, ngaceng, nama lain terangsang yaitu sange, dn sejenisnya hingga tampak kontol Harry tidak lagi ngaceng dan merah. Kontolnya sudah kembali normal: putih mulus dan tidak berlendir, dan kini langit diluar jendela sudah terlihat gelap jadi Dumbledore mencukupkan pelajaran hari ini dengan memberikan album itu dan bubuk floo pada Harry untuk digunakannya pulang dan kembali ke tempat yang sama besok. Dumbledore juga berpesan kepada Harry agar jangan lakukan apapun pada kontolnya hingga esok mereka bertemu lagi.
                Tiba dirumahnya, Harry langsung berlari kekamarnya dan melewatkan makan malam, lapar diperutnya tidak dirasakannya karena penasaran. Dikamar ia langsung melucuti seluruh pakainnya dan langsung melihat lihat lagi isi album itu. Ia sangat penasaran bagaimana dengan melihat isi album itu kontolnya bisa membesar seukuran pegangan tongkat baseball dan kepala kontolnya semerah darah dipenuhi lendir. Harry membayangkannya seperti buah cherry merah yng baru dikeluarkan dari kaleng cherry yang penuh mapple syrup. Belum lagi kenyataan kalau kontolnya tidak sedang ngaceng mengarah keabawah, namun ketika ngaceng dan berukuran besar --logikanya akan semakin berat—justru berdiri dengan sangat tegak hampir menyentuh perutnya. Masih didalam otaknya kata terangsang atau sange itu adalah nama kutukan. Harry tertidur dalam keadaan telanjang bulat dengan kontol masih ngaceng dan album ditangannya.



-------------------------------------------[TO BE CONTINUED]--------------------------------------

1 komentar: